Selasa, 25 Oktober 2016

Angkringan Di Belakang Apartemen Part 1

"Wooo sialan, orang-orang pengembang itu udah mulai datang buat magerin tanah apartemen" gerundel Joko setiba di angringan Mas Bagong.


"Kamu tu kenapa to Jok, dateng-dateng ndak nyapa atau salam, malah nggerundel rak jelas" balas Mas Bagong, sang pemilik angkringan

"Itu lho mas, orang-orang dari pengembang apartemen udah datang buat magerin proyeknya, asu tenan !" Padahal warga sini udah nolak, Amdal juga ndak beres, kok yo sek iso ngadek e...jan tenan" cerocos Joko

"Sek, kamu mau pesen apa Jok ?" sela Mas Bagong

"Kopi Bola siji mas, ning cangkir yo, koyo biasane"

Seperti biasa, tiap malam Joko selalu mampir untuk sekedar ngobrol di Angkringan Mas Bagong. Kali ini Joko mampir sambil sambat soal kabar pembangunan apartemen yang akan dibangun di depan kampung mereka. Sebagai kota yang terus berkembang, apalagi di kota yang tiap tahun kedatangan ribuan anak yang merantau untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kotanya, menuntut kota Y terus berbenah. Salah satunya adalah tuntutan akan kebutuhan hunian yang meningkat tiap tahun. 

Sebenarnya sudah ada apartemen yang berdiri di dekat lingkungan tinggal Mas Bagong dan Joko. Lokasi apartemen itu tak jauh dari kampung. Dan sekarang akan berdiri lagi. Joko adalah salah satu tokoh pemuda yang getol menyuarakan penolakan atas pembangunan apartemen ini. 

Dengan nada yang masih nggerundel "sekarang itu di kampung sebelah lagi krisis air mas, sumber air warga pada kering" curhat Joko usai menyeruput kopi panas dihadapannya. 

"Iya jok, lha kemarin si Sinyo, anak kampung sebelah itu kesini, curhat sumurnya kering". Apalagi jalan mau masuk ke kampungnya itu sekarang macetnya luar biasa"

"Nah itu lho mas salah satu yang tak khawatirkan, belum lagi sering banjir disitu kalau hujan, dan aku takut kampung kita bakal kayak gitu" ujar Joko sambil menyalakan rokok. 

"Ya aku sih berharap pembangunannya dibatalin, udah banyak orang yang menolak, tapi ya kayaknya bakal mentok kalau yang diatas ndak dengerin kita"

Mas Bagong, meskipun hanya jualan angkringan, tetapi statusnya sebagai mahasiswa Drop Out dari salah satu kampus ternama di kota itu membuatnya dihormati pemuda di kampungnya
 Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan dari nama tokoh, tempat dan kejadian penulis mohon maaf






Tidak ada komentar:

Posting Komentar