Gemuruh angin memekakkan telinga, membuat bergidik siapapun yang mendengarnya. Orang-orang di
jalanan kota berlarian. Tapi Budi, bocah kecil berumur 10 tahun itu tetap teguh di tempatnya berdiri. Dibawah cahaya remang lampu lalu lintas.
"Budi, ayo pulang, hujan nih", teriak Jalu.
"Duluan aja, Lu", balas Budi.
"Eh, ayo to, wes deres ini lho hujannya Bud", ujar Jalu dengan logat Jawanya yang kental.
Jalu, bocah seusia dengan Budi. Mereka adalah kawan karib yang dipertemukan secara tidak sengaja. Keluarga Jalu adalah korban penggusuran akibat pembangunan sebuah waduk besar di Jawa tengah. Keluarganya menolak untuk transmigrasi, memutuskan pindah ke kota Y. Sedangkan Budi, ia adalah anak asli kota Y. Kebetulan mereka tinggal dilingkungan yang sama, di bantaran sungai yang membelah kota.
"Yo wes, ayo pulang, tapi jajan angkringan dulu ya", ucap Budi ke Jalu.
"Iya, angkringan mas Bagong ya Bud", balas Jalu.
Berlarilah dua bocah kecil itu menuju angkringan sepi diujung gang rumahnya. Budi dan Jalu ibarat kata sudah menjadi langganan disana.
"Kamu tadi kenapa to Bud, kok tak ajak pulang kamu ndak mau ?", tanya Jalu.
"Aku suka aja lihat orang-orang lalu-lalang Jal", ucap Budi sambil menenteng koran dagangannya yang tersisa setengah.
"Emang kenapa to Bud, apa sih yang menarik dari mereka ?"
"Ah wes lah ndak usah dibahas, aku mau pulang, mau ngerjain PR", sergah Budi
Perjalanan pulang kerumah itu mereka isi dengan saling bercanda twa, khas anak kecil, dengan rasa yang tidak sabar untuk segera sampai kerumah dan makan masakan ibunya.
jalanan kota berlarian. Tapi Budi, bocah kecil berumur 10 tahun itu tetap teguh di tempatnya berdiri. Dibawah cahaya remang lampu lalu lintas.
"Budi, ayo pulang, hujan nih", teriak Jalu.
"Duluan aja, Lu", balas Budi.
"Eh, ayo to, wes deres ini lho hujannya Bud", ujar Jalu dengan logat Jawanya yang kental.
Jalu, bocah seusia dengan Budi. Mereka adalah kawan karib yang dipertemukan secara tidak sengaja. Keluarga Jalu adalah korban penggusuran akibat pembangunan sebuah waduk besar di Jawa tengah. Keluarganya menolak untuk transmigrasi, memutuskan pindah ke kota Y. Sedangkan Budi, ia adalah anak asli kota Y. Kebetulan mereka tinggal dilingkungan yang sama, di bantaran sungai yang membelah kota.
"Yo wes, ayo pulang, tapi jajan angkringan dulu ya", ucap Budi ke Jalu.
"Iya, angkringan mas Bagong ya Bud", balas Jalu.
Berlarilah dua bocah kecil itu menuju angkringan sepi diujung gang rumahnya. Budi dan Jalu ibarat kata sudah menjadi langganan disana.
"Kamu tadi kenapa to Bud, kok tak ajak pulang kamu ndak mau ?", tanya Jalu.
"Aku suka aja lihat orang-orang lalu-lalang Jal", ucap Budi sambil menenteng koran dagangannya yang tersisa setengah.
"Emang kenapa to Bud, apa sih yang menarik dari mereka ?"
"Ah wes lah ndak usah dibahas, aku mau pulang, mau ngerjain PR", sergah Budi
Perjalanan pulang kerumah itu mereka isi dengan saling bercanda twa, khas anak kecil, dengan rasa yang tidak sabar untuk segera sampai kerumah dan makan masakan ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar